Lo pasti kenal masakan palembang cuma empek-empek doank kan?? tapi sebenarnya masih ada brengkes tempoyak, pindang patin, pindang ikan baung yang tak kalah lezat. Kemarin2 gw makan Di resto Putra Wijaya,daerah Matraman(tepatnya jalan proklamasi). Di resto ini semua bahan diimpor dari kota asalnya, diracik oleh orang Palembang. Jangan heran kalau gw kalap menyantap hidangan serba lezat itu, meskipun harus terengah-engah, huah…huah… kepedasan!
waktu itu gw ke resto ini gara2 banyak yang ngerekomendasiin plus info internet. nyari resto ini agak sulit, karena letaknya yang berada agak terselip membuatnya jadi tidak begitu terlihat dari arah jalan raya. Hanya spanduk besar yang dipasang di luar restoranlah yang menjadi satu-satunya petunjuk adanya restoran tersebut. Untuk mencapai pintu masuk gw pun harus menuruni beberapa anak tangga. Seorang pelayan menyambut dan membukakan pintu ketika kami masuk. Deret-deretan kursi dan meja kayu yang didominasi warna merah terlihat masih kosong menyambut kedatangan gw. Kami pun langsung mengambil tempat duduk disalah satu sudut yang tepat menghadap TV yang ditaruh diatas langit-langit. Menu pun mulai dibagikan, tak hanya empek-empek dan juga tekwan yang dapat ditemui disini. Aneka masakan lainnya seperti pindang patin, ikan seluang, hingga hidangan yang ‘langka’ alias jarang ditemui seperti Brengkes Tempoyak Patin dan Burgo pun tersedia. Brengkes Tempoyak Patin sendiri merupakan ikan patin yang dilumuri oleh bumbu tempoyak (buah durian yang diperam hingga asam) dan biasanya disajikan dalam balutan daun pisang. Rasanya memang agak aneh dan begitu menyengat bagi yang tak terbiasa, walaupun begitu makanan ini sangat digemari dan menjadi favorit masyarakat Palembang. Begitu juga dengan burgo yang sudah agak jarang dijumpai. Makanan berkuah yang disajikan mirip laksa tersebut terbuat dari bahan utama tepung beras. Dengan siraman kuah berbumbu yang merupakan racikan dari ikan, santan dan aneka bumbu khas lainnya membuat rasanya gurih lezat.
Sebagai menu utama gw memutuskan untuk memesan seporsi pindang ikan patin dan pindang ikan baung. Tak lupa seporsi tekwan dan empek-empek. Pertama-tama disajikan kue srikayo dalam wadah-wadah plastik kecil, seporsi empek-empek dan sepiring irisan kue lapis legit. Kue srikayo yang rasanya manis dengan warna hijau menggoda kami untuk mencicipi, tetapi karena takut kekenyangan akhirnya kue srikayo pun dengan terpaksa gw lewatkan. Setelah menghirup segelas teh manis hangat, gw pun langsung menyerbu empek-empek yang sudah tersaji di atas meja. Bertekstur lembut dengan rasa ikan yang kuat, membuat gw tak bisa berhenti mengunyahnya. Untuk cuko sendiri benar-benar khas Palembang, puedess mengigit… Biasanya yang sering gw jumpai cuko dan sambal dipisah dalam wadah yang berbeda, tetapi disini tidak semua telah dicampur menjadi satu. Tak heran belum apa-apa cuko yang super puedess ini membuat butir-butir peluh bermunculan di kening gw. Huahh huahh…! . Tak kuat menahan pedas, tekwan pun menjadi serbuan selanjutnya. Ketika mencicipi tekwan, kami pun sedikit kecewa. Rasa tekwan tidak seenak empek-empek tadi karena rasa ikannya tidak begitu kuat. Belum lagi teksturnya yang terlalu lembek dan kurang terasa kenyal.
Untunglah pindang ikan patin dan ikan baung yang menjadi hidangan utama mampu menghibur kekecewaan gw. Pindang yang masih mengepul hangat, menggoda kami untuk mencicipinya. Pertama-tama dicicipilah pindang ikan patin dengan kuah asam segar. Terpancar semburat bau harum dari kuah pindang yang berwarna kuning. Dilengkapi dengan irisan nanas dan tomat yang memberikan sentuhan rasa asam dan irisan cabai rawit hijau yang pedas, membuat paduan rasa yang luar biasa. Apalagi saat dimakan dengan nasi yang mengepul panas dan cocolan sambal nanas, wah rasanya semakin enak saja! Untuk pindang ikan baung sendiri, sebenarnya bumbunya tak jauh berbeda dengan pindang ikan patin. Yang membuatnya berbeda adalah ikan baung (yang dikenal dengan nama ikan sale atau ikan lele asap) yang dipanggang terlebih dahulu. Sehingga ketika mencicipi ikan ini akan tercium sedikit aroma asap yang membuat rasanya menjadi unik. Tak ayal lagi pindang ikan baung pun menjadi favorit kami selanjutnya. Hmm… kenyang dan puas, pupus sudah kerinduan saya akan kelezatan pindang buatan ibu.
Seporsi pindang ikan patin dihargai Rp 17.500,00/porsi, sedangkan pindang ikan baung sedikit lebih mahal yaitu Rp 20.000,00/porsi. Untuk tekwan Rp 9000,00 dan empek-empek dihargai Rp 3000,00 per buah. Nah, jika ingin mencicipi dahsyatnya kuliner Palembang mampir saja ke resto Putra Sriwijaya aja!!(tmvanculinary)
2 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment




enak nich…
Gw rata-rata dah nyobain tuh em… berhubung gw orang sana gitu,hehe.. ntar liburan insyaallah gw kesana, doakan saja..
yang di veteran juga enak em, namanya rumah makan wong palembang..
emang lo asli palembang juga em?? berarti wonk kita galo donk!!! hehe…