Inu Kencana

inu_kencana.jpg Membongkar fakta kebobrokan dalam sebuah lembaga kerap sulit dilakukan. Terlebih jika lembaga yang harus dibongkar adalah sumber mata pencarian. Berbeda halnya dengan Inu Kencana. Meski bertubuh mungil, keberaniannya luar biasa.

Ya, pria kelahiran Payakumbuh, 14 Juni, 55 tahun silam ini kian dikenal namanya di Tanah Air. Dia populer setelah membongkar sederet kasus yang terjadi di Institut Perguruan Dalam Negeri (IPDN). Mulai dari misteri kematian Wahyu Hidayat, Cliff Muntu, seks bebas, narkoba hingga korupsi yang terjadi di sekolah pencetak para pamong tersebut.

Anak bungsu dari 12 bersaudara buah cinta pasangan Abdullah Syafiie dan Zaidar ini, semasa kecil dikenal sebagai anak yang sangat dekat dengan ibunya. Ayahnya yang menjabat sebagai bupati Bengkalis dan ibu yang berprofesi sebagai guru, membuat Inu menjadi siswa berprestasi di sekolahnya. Bahkan, dia juga memiliki bakat melukis binatang.

Terlebih dalam pelajaran Matematika, Inu seakan tak tersaingi oleh siswa lainnya dalam mengerjakan ilmu pasti ini. Saat dirinya pindah ke Bengkalis, Inu kesulitan menjadi juara sekolah. Selain pesaingnya lebih banyak, mungkin juga karena dalam menuntut ilmu, dia sering berpindah-pindah. Bayangkan saja, sejak SD hingga SMA, Inu pindah ke tujuh kota, yaitu Payakumbuh, Bengkalis, Pekanbaru, Siak Sri Indrapura, Jakarta, Binjai, dan Pangkalan Brandan.


Cinta Bersemi di Papua

Beranjak remaja, Inu ditakdirkan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Profesi itu ditekuninya sejak lulus kuliah dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN).

Tidak tanggung-tanggung, dirinya mendapat tugas bekerja di ujung kota Merauke dan menjabat sebagai kepala Sub Bagian Agama, Pendidikan dan Kebudayaan.

Di sana, kariernya gemilang. Tidak sampai satu tahun, Inu naik pangkat menjadi kepala Bagian Humas dan Protokol Setwilda Tingkat II Merauke. Jabatan tersebut membuat dirinya bangga. Pasalnya, selain mendapat fasilitas sepeda motor, Inu juga diberi fasilitas rumah dinas yang disebut Wisma Praja.

Salah satu tugasnya sebagai humas yakni memotret peristiwa. Pada suatu hari, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-37, salah seorang wanita yang menjadi pengibar bendera membuat Inu jatuh hati. Momen pertama kali diadakan pengibaran bendera di Merauke itu menjadi saat paling berkesan buat Inu.

Sebab, wanita pengibar bendera yang siswi kelas tiga IPS SMU Yohannes XXIII Merauke, itu membuat hati Inu berdebar-debar. Dara bertinggi badan 170 cm, pendiam dan jarang tersenyum itu belakangan diketahui bernama Indah Prasetiati.

Inu pun mengabadikan foto Indah yang lalu diberikan kepadanya. Ternyata hari proklamasi tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Indah.

Sekian lama menjalin asmara, Inu berniat menjalin hubungan serius, namun niat tersebut tidak berjalan mulus. Inu dan Indah memiliki keyakinan berbeda. Usaha demi usaha seakan tak berarti. Bahkan, ketegangan antara Inu dengan orang tua Indah kerap terjadi.

Inu lalu meminta petunjuk kepada para sahabatnya yang ketika itu kebanyakan dari mereka adalah pejabat di Merauke, mengingat Inu tinggal seorang diri di Merauke. Sejumlah sahabat Inu pun mengumpulkan uang demi membiayai pernikahannya dengan Indah.

Kombinasi perjuangan Inu yang serius dan doa tiada henti, Indah akhirnya membulatkan tekad berpindah keyakinan dan menjadi seorang muslimah. Inu pun selalu membimbing Indah dalam menjalani ajaran Islam.

Akhirnya, pada 31 Mei 1984, Indah menjadi istri sah bagi Inu, meski tanpa dihadiri orang tua Indah. Hingga saat ini, Inu dan Indah dikaruniai tiga orang anak yakni Raka Manggala Syafiie (22), Nagara Belagama Syafiie (19), dan Periskha Bunda Syafiie (16).

Didukung Keluarga Bongkar Kebusukan IPDN

Selama bertahun-tahun Inu mengabdikan dirinya di IPDN (STPDN ketika itu) dengan menjabat berbagai profesi, Inu mulai muak dengan segala kebusukan yang terjadi di sana. Mulai dari korupsi, seks bebas, korupsi, dan lain sebagainya.

Itu membuat dirinya bertekad membongkar semuanya ke muka publik. Inu pun berkonsultasi kepada istri tercinta. Shalat istikharah (meminta petunjuk kepada Tuhan) tak henti-hentinya dia dilakukan dengan harapan akan diberi jalan.

Petunjuk yang dinanti datang pada Agustus 2006. Ketika itu, para pembunuh praja Wahyu Hidayat tetap diluluskan. Itu membuat Inu geram. Dia pun memberanikan diri meminta izin kepada Presiden SBY melalui juru bicaranya, Andi Malarangeng, untuk mengusut segala peristiwa yang terjadi di IPDN. Syukur, Andi mempersilahkan Inu membongkar kebobrokan sekolah itu.

Keberanian Inu mengungkap kasus IPDN menjadi pemberitaan heboh di media massa. Sampai pada akhirnya Inu disebut-sebut sebagai “pahlawan” dan “dosen kontroversial”. Ada yang kagum dengan tindakannya tersebut, namun ada pula yang membenci.

Teror demi teror dirasakan olehnya, mulai dari pesan singkat, surat kaleng sampai dengan upaya pembunuhan. Yang terakhir ini dilakukan orang yang tak suka padanya dengan cara menabrakkan mobil berkecepatan tinggi. Beruntung, nyawanya masih selamat.

Bagi Inu, perjuangan menegakkan kebenaran akan terus dilakukan. Dia masih akan menguak kelambu hitam yang menyelubungi kampus IPDN, kendati ancaman kerap dirasakannya.

“Saya akan tetap menegakkan kebenaran. Sebab, ini adalah sebuah petunjuk hasil dari shalat istikharah saya. Masih banyak permasalahan di tubuh IPDN yang belum saya bongkar,” tegas Inu.

1 Comment(s)

  1. Pendirian kokoh, terlahir sebagai jiwa kebenaran, mungkin penmgalaman sebelumnya yang membuat pak inu ini sebagai tokoh yang benar – benar mengungkapkan kebenaran absolut.
    Saya salut dengan pak ini soal filsafat theologi, beliau membuktikan eksistensi Tuhan dimulai dari karaguan yang mendalam sampai akhirnya “tercerahkan” dan bisa membuktiakan dengan yakin seyakin yakinnya bahwa Tuhan itu memang Ada.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment