Keajaiban fisika dan nanoteknologi yang fantastis membuat impian naik lift
ke Bulan, jadi nyata. Kalaupun tidak mencapai bulan, setidaknya lift itu
bisa membawa kita menuju satelit yang mengorbit mengelilingi Bumi pada jarak
yang lebih dekat dibanding orbit bulan.
Kini dapat dibangun dengan sangat mudah di dunia nanoteknologi menggunakan
konsep fisika yang sangat sederhana.
Apa yang dibutuhkan untuk membuat lift ini? Satu hal yang pasti: bahan yang
sangat kuat dan sangat panjang semacam kabel raksasa yang bisa menjulur dari
bumi ke satelit yang sedang mengorbit itu. Itu lho, yang seperti di cerita
dongeng Jack and the Bean Stalk. Tetapi kita tentunya tidak mau seperti Jack
yang harus memanjat setinggi itu sampai mencapai negeri khayangan. Kita
ingin meluncur ke luar angkasa di dalam sebuah ‘lift’ yang nyaman dan mampu
membawa kita ke angkasa dalam sekejap. Hmm. rasanya jalan-jalan ke luar
angkasa bisa menjadi agenda mingguan! Pasti seru menjelajahi jagad raya ini!
Siapa sih yang bisa menyediakan keajaiban ini? Siapa lagi kalau bukan
ilmuwan-ilmuwan pintar dari National Aeronautics and Space Administration
(NASA) yang tersohor itu.
Menara setinggi 50 km
Apa rencana NASA dalam mewujudkan impian ini? Pertama-tama, kita tentunya
membutuhkan sebuah menara yang sangat tinggi yang bisa dijadikan ’stasiun’
keberangkatan ke angkasa. Menara ini harus lebih tinggi dari menara
tertinggi yang ada di bumi saat ini. Menara ini harus mencapai ketinggian 50
km! Padahal bangunan tertinggi yang ada saat ini hanya sekitar 0,5 km. Pasti
susah sekali membangun struktur yang setinggi itu! Kenapa harus setinggi
itu? Ketinggian ini ternyata dibutuhkan untuk ‘menancapkan’ ujung kabel
panjang yang menghubungkan bumi dengan satelit di luar angkasa. Menara yang
sangat tinggi dan kabel yang sangat panjang ini dapat dibuat dengan
teknologi yang sudah ada saat ini. Kenapa selama ini tidak pernah ada yang
membuat menara setinggi itu jika memang manusia sudah mampu untuk
membangunnya? Jawabnya sederhana saja! Biaya konstruksi bangunan setinggi
itu sangat mahal. Lagipula, selama ini belum ada kebutuhan mendesak akan
bangunan setinggi ini. Lalu bagaimana cara NASA mengakali biaya pembangunan
proyek yang luar biasa ini? Dengan bantuan Nanoteknologi!
Nanoteknologi merupakan teknologi yang mengutak-atik material dalam ukuran
nanometer (1 nanometer = seper satu miliar meter). Dengan demikian,
nanoteknologi merupakan teknologi yang sangat presisi. Teknologi yang
menakjubkan ini dapat membantu cita-cita NASA untuk menekan biaya
pembangunan menara super tinggi dan kabel super panjang tadi. Mengapa bisa
lebih murah dengan nanoteknologi? Karena melalui bantuan nanoteknologi para
ilmuwan bisa mengatur susunan atom-atom yang digunakan sesuai kemauan
mereka. Mereka bahkan bisa diprogram untuk melakukan self-assembly. Ini
berarti, proses pembangunan kabel yang luar biasa panjang itu dapat
berlangsung secara otomatis! Tenaga kerja manusia yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan proyek ini dapat dikurangi. Proses pembangunannya pun bisa
dipercepat.
Nanoteknologi juga sudah berhasil menyodorkan suatu material hebat yang
sangat ringan, tetapi kekuatannya 100 kali lebih kuat dari baja! Material
hebat ini diberi nama Carbon Nano-Tube (CNT). Material ini hanya tersusun
dari atom karbon (C), seperti grafit dan berlian. Kuat tetapi sangat ringan
sehingga menara dapat dibuat lebih tinggi dan kabel dapat dibuat lebih
panjang dan kuat tanpa takut jatuh/roboh karena beratnya sendiri.
Hal berikut yang sangat dibutuhkan adalah sesuatu yang cukup berat yang
mengorbit mengelilingi bumi. Asteroid dapat dimanfaatkan untuk tujuan ini!
Asteroid ini berfungsi sebagai beban yang menstabilkan kabel serta satelit
geostasioner yang sedang mengorbit itu (Gambar 1). Tanpa beban penstabil
(counterweight), kabel dan satelit bisa jatuh menimpa bumi karena tertarik
gravitasi, walaupun bahan konstruksinya merupakan material yang sangat
ringan. Asteroid ini nantinya dihubungkan dengan satelit menggunakan kabel
yang sama. Asteroid ini dapat diarahkan supaya mengorbit pada ketinggian
tertentu mengelilingi bumi dengan cara menembaknya dengan rudal. Tabrakan
dengan rudal tersebut dapat menggeser posisi asteroid sehingga berada pada
jangkauan gravitasi bumi. Dengan demikian asteroid akan terus mengorbit
mengelilingi bumi pada ketinggian yang sama.
Bisa lihat pemandangan
OK, rencana konstruksi bangunan dan lintasan/kabelnya tampaknya sudah cukup
baik. Lalu bagaimana dengan ‘lift’nya sendiri? Yang pasti bentuknya tidak
sama dengan lift yang biasa kita lihat di gedung-gedung bertingkat. Lift ke
luar angkasa ini berupa sebuah pesawat luar angkasa yang akan membawa
penumpang dari bumi menuju satelit yang sedang mengorbit. Pesawat ini
berbeda dengan pesawat luar angkasa yang saat ini digunakan para astronot
untuk menjalankan misi-misi mereka.
Pesawat luar angkasa yang mereka gunakan harus diluncurkan menggunakan roket
yang bisa melemparkan pesawat sampai ke luar atmosfer bumi. Pesawat yang
akan menjadi lift kita nanti tidak membutuhkan roket semacam itu. Pesawat
modern ini memanfaatkan konsep magnetic levitation (maglev). Teknologi
maglev saat ini digunakan untuk kereta api (Maglev Trains) yang melayang
(tidak menyentuh permukaan rel kereta) setinggi 5-10 cm di atas rel kereta.
Kereta maglev bisa melayang di atas rel karena ada gaya tolak-menolak antara
magnet-magnet yang dijejerkan di sepanjang rel dengan magnet-magnet yang
dijejerkan di sepanjang dasar kereta, yang memiliki kutub yang berlawanan
dengan magnet-magnet di sepanjang rel tadi.
Karena permukaan kereta dan rel tidak pernah bersentuhan (melayang) maka
tidak terjadi gesekan antara kedua permukaan itu. Ini berarti kereta bisa
meluncur dengan sangat cepat! Itu pun tanpa memerlukan banyak energi karena
kereta meluncur dengan memanfaatkan gaya-gaya magnet yang mendorong dan
menariknya sepanjang lintasan. Konsep inilah yang digunakan untuk lift luar
angkasa kita. Pesawat maglev (Gambar 2) meluncur tanpa bersentuhan dengan
kabel raksasa super panjang yang menjadi lintasannya. CNT yang ringan dan
kuat tadi ternyata memiliki kelebihan lain.
Material ajaib ini dapat bersifat magnet. Padahal biasanya semua material
karbon tidak pernah menunjukkan sifat magnet. Ini membuatnya semakin ideal
untuk dijadikan bahan pembuat kabel raksasa kita. Perjalanan ke luar angkasa
pun dapat ditempuh sangat cepat dan mengasyikkan. Mengasyikkan karena kita
dapat mengintip ke luar jendela pesawat saat sedang meluncur, sambil
menikmati keindahan pemandangan bumi dan luar angkasa.
Indah sekali mimpi itu! Apa ini benar-benar bisa terwujud? Mengapa tidak?
NASA sangat bersemangat mengembangkan nanoteknologi yang akan menjadi tulang
punggung proyek ini, serta semua proyek NASA lainnya. Semangat NASA yang
sangat tinggi ini dapat dimengerti karena saat ini semua proyek dan misi
menjelajah ruang angkasa memakan biaya yang sangat besar. Dengan
nanoteknologi semua biaya dapat diperkecil sehingga memungkinkan
penjelajahan dan misi-misi yang lebih luar biasa dari yang selama ini
direncanakan.
Nantinya, tidak hanya para astronot yang bisa menikmati perjalanan ke luar
angkasa. Semua orang bisa berlibur ke luar angkasa! Kita pun bisa semakin
memahami jagat raya melalui penelitian-penelitian yang tentunya dapat
dijalankan dengan lebih cepat dan mudah dengan adanya lift ini.
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment



